Jogja Solo Bersama Sri Wedari

"Ehhhh heeeiii ada job fair loh ... !!!"
"Wah dimana euy ?"
"Di Solo ... yuk"
"Wah boleh juga, mumpung sekalian kita jalan-jalan bareng nih"
"Oke sip"

      Begitulah sepenggal percakapanku dengan teman-temanku mengenai rencana keberangkatan kami untuk mengikuti Solo Job Fair tepatnya di Plaza Palur Solo tanggal 24 Mei lalu. Pertama kami mengusulkan untuk menggunakan sepeda motor untuk berangkat ke tempat tujuan sekalian untuk menghemat pengeluaran, tetapi karena motor temanku tidak bisa digunakan untuk perjalanan jarak jauh yang dikarenakan karena remnya sedikit blong, akhirnya kami sepakat untuk menggunakan kereta api jurusan Jogja - Solo yaitu Sri Wedari. Hal ini berdasarkan saran dari seorang teman yang sering melakukan perjalanan ke Solo menggunakan Sri Wedari "jarang kebanyakan peumpang & suasananya bersih" begitu katanya. Kita yang belum pernah menggunakan kereta ke Solo percaya saja dengan pendapatnya, ehehe ...

       Kita berkumpul di Stasiun Tugu Jogja jam 8.00 pagi, hal ini dikarenakan kereta akan memulai perjalanan jam 9.10 pagi sehingga kita berencana untuk datang sejam lebih awal untuk mengantisipasi hal - hal yang berada diluar perkiraan, selain itu juga untuk mencegah kehabisan tiket. Kita memarkirkan motor di parkiran Malioboro dekat stasiun Tugu (parkiran Abu Bakar Ali kalau tidak salah) dan menuju ke tempat pembelian karcis kereta api Stasiun Tugu yang berada di Jalan Sarkem, sehingga mau tidak mau kita harus berjalan kaki untuk menuju ke sana. Tidak begitu jauh, namun tidak begitu cukup dekat sehingga lumayan menguras tenaga kami, uhuhu ...

stasiun tugu yogyakarta
Kursi untuk menunggu kedatangan kereta di Stasiun Tugu
stasiun tugu yogyakarta
Selfie sambil menunggu kedatangan kereta
stasiun tugu yogyakarta
Selfie berempat didalam kereta Sri Wedari
stasiun tugu yogyakarta
Keretanya enak dan bersih sekali
stasiun tugu yogyakarta
Arah keberangkatan kereta
       Setelah melalu kurang lebih 2 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Stasiun Purwosari Solo kurang lebih jam 10.30. Kami bergegas keluar stasiun dan mencari transportasi untuk menuju ke Mal Plaza Palur Solo sesegera mungkin. Setelah bertanya kesana - kemari dengan bapak penarik becak dan orang - orang di sekitar, salah seorang diantara mereka tiba - tiba menunjuk satu - satunya bus yang hampir berangkat "Naik itu saja mbak ...", kami langsung lari mengejar bus tersebut. Fiuhh ... akhirnya kami menggunakan Trans Batik Solo untuk menuju ke Mal Plaza Palur.

stasiun purwosari solo
Stasiun Purwosari Solo
trans batik solo
Di dalam Trans Batik Solo
      Kami sampai di Plaza Palur kurang lebih jam 12 siang, ternyata bus ini juga melewati UNS. Setelah itu kami langsung menuju ke acara Job Fair tersebut dan ternyata membayar 25ribu uwahaha, temanku sempat tidak ingin ikut setelah mengetahui biaya tiket masuk tersebut, akhirnya setelah kami bujuk dia pun luluh juga. Kami pun berjalan mengunjungi satu persatu stand tersebut, memasukkan berkas lamaran tersebut satu persatu sambil berdoa ada satu lamaran yang berhasil, ada puluhan stand perusahaan, tetapi kami hanya bisa memasukkan tidak sampai 10 lamaran, ahaha ... Lapar dan lelah melanda, kami beristirahat dan membeli makanan di foodcourt yang memang ada di mal tersebut, lalu kami menyempatkan diri untuk foto - foto di sudut mall yang ternyata memang ditempatkan sebagai zona untuk berselfie ria ... Yaah bisa dibayangkan ekspresi kami di zona selfie tersebut ... Gaje ... ehehe

mal plaza palur solo
Selfie time
mal plaza palur solo
Groufie
mal plaza palur solo
Capek nih
      Waktu sudah hampir menunjukkan jam 15.30 dan kami harus buru - buru pulang, kalau tidak maka bisa - bisa mendapatkan kereta Solo - Jogja yang lebih malam dan hal itu berarti bahwa kami akan lebih malam lagi untuk sampai di Jogja. Alhamdulillah kami sampai di Stasiun Balapan Solo dan masih sempat untuk membeli tiket kereta untuk keberangkatan jam 17.00. Alhamdulillah kami sampai di Jogja dengan selamat kurang lebih jam 7 malam :)

stasiun balapan solo
Tiket kereta Solo Jogja
stasiun balapan solo
Stasiun Balapan Solo
stasiun tugu jogja
Foto di Lorong Stasiun Tugu





Perjalanan Mencari Candi Sambisari

      Sudah lama sekali blog ini tidak diupdate postingannya, maklum saya sedang sibuk-sibuknya menyebar undangan lamaran pekerjaan kesana-kemari padahal lumayan banyak pengalaman yang ingin saya tuangkan melalui blog ini, apalah daya karena hanya bisa dilakukan sekarang. Ide postingan semakin banyak dan menumpuk di kepala meminta untuk diposting, ehehe. Alhamdulillah saya baru mendapat pekerjaan lusa, dan untuk merayakannya maka saya update blog ini, yeah ...

      Mei awal bulan lalu setelah mengikuti Job Fair di Gedung Mandala Bakti Wanitatama, teman saya tiba-tiba mengajak untuk berjalan-jalan sebentar. Maklum karena kita selesai mengikuti Job Fair jam 12 siang, masih terlalu awal untuk pulang kerumah dan tiba-tiba keinginan untuk jalan-jalan itu pun muncul. Lalu akan kemana kami pergi ? Setelah berembug ini - itu, terlalu jauh lah, yang baru lah, dan lain lain, akhirnya pilihan kita jatuh ke Candi Sambisari. Kenapa Candi Sambisari ? Karena kita belum pernah kesana, ehehe. Setelah menentukan tujuan perjalanan kemudian kita mencari peta untuk menuju ke Candi Sambisari. 

      Dari arah Jogja, belokan jalan untuk menuju ke Candi Sambisari terletak di sebuah gang kecil yang berada di depan Bandara Udara Adisucipto Yogyakarta, jadi di sebelah kiri jalan. Setelah belok ke arah gang maka tinggal jalan terus hingga menemui jalan paving block dan selamat, kamu berhasil menemukan daerah kawasan Sambisari dan hal itu berarti kamu akan segera menemui Candi Sambisari.

      Candi Sambisari sendiri sepertinya sudah lumayan dikelola dengan baik, hal ini terlihat ada warung, tempat parkir, petugas tiket masuk Candi Sambisari (biaya tiket masuknya Rp 2.000,00), kawasannya bahkan sudah dikelola sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik dan asri dengan banyak tanaman hijai disana-sini, membuat sejuk.


Candi Sambisari
Pemandangan Candi Sambisari dari arah pintu masuk
      Banyaknya pepohonan, semak belukar yang ditata dengan sedemikian rapinya, hingga dibuatnya jalan setapak dengan pemandangan batu bagian Candi Sambisari yang belum tersusun dan masih dinomori menimbulkan rasa yang berbeda. Rumput yang lebat dan rapi menutupi hampir sebagian besar tanah kompleks Candi Sambisari membuatku lebih memilih berjalan tanpa menggunakan sepatu, ehehe walaupun akhirnya dimarahin temanku dan menyuruhku mengenakan sepatu.

Candi Sambisari
Foto di bagian depan Candi Sambisari

Candi Sambisari
Bagian dalam Candi Sambisari

Candi Sambisari
Arca yang berada di bagian terdalam Candi Sambisari

Candi Sambisari
Bagian Candi Sambisari yang sepertinya belum selesai direnovasi

Candi Sambisari
Berposa di Candi Sambisari yang unik
     Menurut saya Candi Sambisari termasuk kedalam golongan candi berukuran kecil, tetapi penanganan untuk mengembangkan kawasan wisata Candi Sambisari ini patut diacungi jempol. Saya berharap beberapa tahun kedepan, kawasan ini akan lebih ramai lagi dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara dan semakin banyak batu-batuan candi yang telah telah tersusun membentuk stupa candi.


      


Arroy Mak Mak Rasa Vegetable Beef

      Hari Minggu lalu jam 2 siang saya sama adik memutuskan untuk pergi ke perpus kota Yogyakarta dengan tujuan untuk numpang koneksi wifi, maklum wifi mendadak error dan duniaku tidak terkoneksi dengan internet sama sekali ... fuuuhhh. Perpustakaan kota Yogyakarta tidak terlalu banyak berubah, masih tetap nyaman dan enak ditambah koneksi wifi yang lumayan cepat, asik deh :). Saya browsing lowongan pekerjaan sedangkan si adek menjari referensi untuk mengerjakan laporan praktikum kimianya.

    Ketika waktu sudah menginjak pukul setengah empat, tiba-tiba si adek mengajak ke mall. Sebenarnya dari awal si adek memang ingin sekali ke mall dan dia mengajak untuk wifi-an di Amplas saja, tetapi yah saya sempat berpikir kalau ramai dan tidak ada tempat duduk bagaimana ? Akhirnya setelah dari perpus kota, kami mampir sebentar ke Amplas sekalian sholat Ashar dan menunggu waktu sholat Maghrib.

      Tiba-tiba perut kami terasa lapar, karena berkeliling-keliling mall dan akhirnya kami menuju ke suatu restoran, Arroy Mak Mak. Nama yang tidak familiar bagi kami, tetapi yah cacing di perut berteriak dan sukses membuat perut bunyi. Setelah memilih menu yang akan di makan, kamu duduk di meja dan menunggu pesanan kami.

arroy mak mak
Foto dulu dengan si adek

arroy mak mak
Lumayan lama juga pesanannya datang
      Sepertinya karena efek lapar yang memuncak, kami merasa lumayan lama pesanannya datang, ehehe. Dan akhirnya pesanan datang taraaa ... Kita memesan Vegetable beef ala Arroy Mak Mak Amplas, dan beginilah penampakan pesanan kami. Waktu saya kirimkan foto makanan ini ke cowokku, dia malah bilang seperti putu ... ehehe lumayan mirip sih ... penyajiannya lucu deh :) Harga per porsi untuk Vegetable Beef adalah Rp 21.000,00.

arroy mak mak
Vegetable Beef Arroy Mak Mak
arroy mak mak
Wuiiih

      Sepiring nasi dengan 3 pasang Vegetable Beef yang disiram dengan saus asam manis plus taburan wijen siap untuk disantap. Untuk "gorengan Vegetable Beef" terbuat dari potongan bawang bombay halus dengan dililit oleh daging sapi tipis yang dicelupkan kedalam tepung berbumbu khusus dan digoreng renyah, rasanya enak dan bawang bombaynya tidak terlalu layu, masih krenyes-krenyes. Untuk sausnya sendiri sepertinya terdiri dari bawang putih, minyak wijen, saus tomat, dan taburan wijen, coba kalau rasanya lebih asam dan lebih pedas, ehehe ...

      Rasa makanannya enak, standar lah :) Pelayanannya ramah ... hanya saja ada beberapa menu yang kosong, jadi sempat agak kecewa padahal ada tom yum ... Overall mungkin kalau ada uang lebih mungkin akan menyempatkan diri mampir kemari lagi dan mencoba menu yang kosong tersebut :)

Ketarik Ombak di Pantai Ngandong dan Cantiknya Pantai Indrayanti !!!

      Stress ... penat ... lelah, pasti dibalik semua hal itu seseorang sangat membutuhkan yang namanya hiburan, baik hiburan yang bersifat maya maupun yang bersifat nyata. Kali ini saya akan melakukan hiburan yang bersifat nyata karena ingin mengunjungi tempat-tempat baru yang tentunya akan memberikan wawasan dan cara berpikir yang baru pula. Alhamdulillah badan saya pegal setelah perjalanan dari pantai, kemarin bersama ketiga sahabat saya yang usil dan menyenangkan, thanks guys :). Kali ini kami memutuskan ke pantai lagi dengan membawa "tour guide" yaitu sahabatku ehehehe, maklum dia sudah biasa melanglang buana bersama teman-temannya mengunjungi tempat-tempat di Yogyakarta. Kami sepakat untuk mengunjungi Pantai Ngandong yang bahkan saya sendiri pun baru mendengar namanya. Hmmm ...

    Pantai Ngandong berada searah dengan Pantai Baron (tetapi tidak satu tempat dengan Pantai Baron), tetapi namanya belum setenar dengan Pantai Baron padahal waaaahh sangat menarik dan indah pantainya. Untuk menuju ke Pantai Ngandong, cukup mengikuti plang petunjuk arah menuju ke Pantai Baron, lalu mengikuti plang petunjuk arah menuju ke pantai Sundak, atau kalau bingung silahkan menanyakan tempatnya ke penduduk sekitar atau di pos-pos penjagaan, mereka akan senang hati membantu :)

      Pantai Ngandong sendiri ternyata terletak sebari dengan Pantai Sepanjang, Pantai Sundak, dan Pantai Indrayanti, tetapi lebih dekat ke Pantai Indrayanti. Perjalanan dari Yogyakarta menuju ke Pantai Ngandong memakan waktu hampir 3 jam dan jangan lupa untuk menyiapkan uang Rp 10.000,00 untuk membayar tiket masuk per orang lalu jangan lupa untuk membeli perbekalan karena perjalan yang ditempuh lumayan menguras energi bagi kalian kaum hawa (pengalaman pribadi).

      Ke pantai enaknya memakai sandal jepit ataupun telanjang kaki, jangan lupa membawa pakaian ganti karena saya yakin Anda akan tergiur untuk merasakan segarnya air laut dengan menyeburkan diri sembari menikmati deburan ombak yang menerpa tubuh.

      Akhirnya kami sampai di Pantai Ngandong, setelah memarkir motor dan membayar karcis parkir sebesar Rp 2.000,00 kami langsung berhamburan menuju pantai. Ternyata pantainya memiliki pasir yang putih dengan butiran yang lebih besar daripada pasir pantai pada umumnya dengan karang-karang yang sedang dan besar yang indah.

      Ceruk-ceruk karang yang berisi air laut yang dipenuhi ekosistem laut seperti ganggang dan ikan kecil, menggelitik anak-anak dan ayahnya untuk mengambil beberapa ikan kecil untuk dipelihara, kebetulan disana juga dijual ember dan saringan ikan kecil berwarna-warni. Pecahan karang dan koral yang terhampar disepanjang garis pantai beserta hamburan ganggang hijau yang mengapung membuatku gatal untuk mengumpulkan dan mengoleksinya bersama sahabat-sahabatku. Ombak disini relatif kecil, hal ini mungkin dikarenakan ada beberapa karang besar yang dapat berfungsi sebagai pemecah ombak, sehingga menjadi aliran ombak yang tenang.

pantai ngandong
Berfoto bersama ketiga sahabatku dengan background karang yang sangat besar
pantai ngandong
Ada sebuah karang berukuran besar yang dapat dinaiki tetapi tetap berhati-hati
pantai ngandong
Indahnya Pantai Ngandong yang sangat memukau
     Saya berjalan menelusuri ceruk-ceruk karang sambil meninjaki barisan ganggang laut dan alga yang tumbuh subur menempel di sela-sela batu karang. Beberapa ikan kecil berenang berlarian kesana kemari, memberi hiburan yang sangat menarik dan tak terlupakan bagiku. Ganggang laut yang licin, arus laut yang yang disertai deburan ombak tiba-tiba besar sukses membuatku tercebur dan ditertawakan teman-temanku, adududuh padahal lupa membawa pakaian ganti ...

pantai ngandong
Saya duduk di atas karang kecil sembari mengamati ikan kecil dan karang cantik
pantai ngandong
Pemandangan pantai yang indah
pantai ngandong
Kami mengumpulkan banyak gangang hijau dan sejenis alga cokelat
pantai ngandong
Yeah ... Pantai Ngandong sangat indah bukan :)
      Walaupun hari sudah menjelang sore, kami masih belum puas untuk menikmati rekreasi pantai hari ini, ditambah lagi temanku ingin membeli topi pantai yang cantik. Kata "tour guide" kami, kalau mau beli topi pantai lebih baik ke Pantai Indrayanti, karena disana lebih banyak dan lebih bervariasi bentuknya selain itu harganya lebih murah, katanya. Baiklah ... setelah dari Pantai Ngandong akhirnya kami ke Pantai Indrayanti yang berjarak hanya kurang lebih 5 menit.

      Harga 1 topi pantai paling mentok hanya bisa ditawar Rp 25.000,00 sehingga mengurungkan niat temanku untuk membelinya, lalu kami beralih istirahat sejenak di gazebo Pantai Indrayanti yang ditata sedemikian cantik dan rindangnya sehingga membuat suasana nyaman. Untuk harga makanannya sepertinya "standar harga pantai", kami hanya memesan es teh Rp 6.000,00 dan es kelapa muda Rp 15.000,00 ehehehe harganya lumayan mahal soalnya ...

pantai indrayanti
Kami berirtirahat sejenak sambil menikmati es kelapa muda
pantai indrayanti
Meja dan kursi ditata cantik di bawah pohon
     Setelah puas beristirahat kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sebentar menjelajahi Pantai Indrayanti. Ombaknya lumayan besar dan kencang karena benar-benar tidak terhalang oleh beberapa batu karang berukuran besar (berbeda dengan di Pantai Ngandong yang ombaknya relatif tenang). Tidak ada hamparan karang kecil dan pecahan koral di sepanjang bibir pantai, hanya terlihat batu karang yang sangat besar dengan celahnya yang dapat dilewati dengan mudah yang berujung pada pemandangan tumpukan batu-batu karang sedang yang sepertinya "mudah longsor" karena ada tanda peringatan rawan longsor.

pantai indrayanti
Celah karang di Pantai Indrayanti yang unik
pantai indrayanti
Hati-hati mendaki tumpukan karang ini
pantai indrayanti
Berfoto dengan background karang yang besar di Pantai Indrawanti
pantai indrayanti
Pose-pose cantik
pantai indrayanti
Senja hari dengan keramaian di Pantai Indrayanti
     Karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 5, kami harus buru-buru pulang hal ini dikarenakan perjalanan yang sangat jauh dan pemandangan yang mulai gelap, kami harus menghindari hal-hal yang tidak dimungkinkan.
 Begitulah pengalamanku bersama sahabatku mengunjungi Pantai Ngandong dan Pantai Indrayanti yang sangat cantik ini :) Jadi ingin mengunjunginya kembali :)


Pengalaman "Hampir Saja" di KaliBiru

       Sudah lama sekali tidak mengisi blog ini, alasannya karena tidak ada bahan yang digunakan untuk mengisi blog ... tetapi begitu menemukan bahan penulisan, ujung-ujungnya malah menundanya terus-terusan dan baru dapat terealisasi untuk dituliskan sekarang. Benar-benar yah ... hmmm ...

      Kali ini saya, adik, dan kedua orang temanku berkesempatan untuk mengunjungi KaliBiru. Perjalanan dari Yogyakarta ke KaliBiru membutuhkan waktu tempuh kurang-lebih 2 jam jika mengendarai motor dan ditambah lagi keadaan hujan gerimis rincik-rincik. Jalannya melewati Jalan Wates, karena masih bekas hujan, suasana lumayan sepi dan enak untuk mengebut, hehehe tapi jangan deh berbahaya. Di sebelah kiri jalan nanti ada plang kereta api, nah jalan berikutnya adalah menyebrangi (?) rel kereta api. Jalannya lumayan banyak berlubang ditambah habis hujan sehingga becek di sana-sini, sehingga lumayan seru untuk dihindari ditambah lagi pemandangan kiri-kanan yang penuh sawah. Enak sekali menikmatinya ...

      Kawasan wisata KaliBiru sendiri sudah bukan hal yang baru untuk dibicarakan. Berbekal pemandangan dari puncak bukit menghadap Waduk Sermo yang sungguh indah ditambah kepiawaian masyarakatnya yang sangat handal dalam mengelola suatu objek wisata, akhirnya lahirlah KaliBiru. Tapi tunggu dulu, untuk dapat menikmati wisata KaliBiru yang terkenal itu, ada 1 tantangan yang harus kalian lewati yaitu tanjakan & tikungan super ekstrim, EKSTRIM ? Yaa ... ekstrim buat cewek seperti kita mungkin, ehehe ...

      Tanjakan dengan kemiringan diatas 60 derajat (mungkin), tikungan yang tajam, dan tanjakan jalan aspal yang licin hampir membuat nyali kita ciut (hampir saja payah). Setelah berguru dan menimba ilmu dengan bapak-bapak penjaga di bawah tanjakan KaliBiru dan arahan dari pak Ojek, kita merasa sudah mendapatkan ilmu yang cukup untu bekal melewati tantangan ini, ahaha ... Oh iyah, untuk yang benar-benar tidak berani, bisa menggunakan jasa ojek di sini biayanya cukup Rp 15.000,00 saja untuk diantar dari tanjakan KaliBiru hingga ke objek wisata KaliBiru yang jaraknya kurang lebih 800m (kata bapaknya). Saya sendiri cukup berani untuk mengendarai motorku sendiri, sedangkan adikku menggunakan jasa ojek (saya takut terjungkal :v)

      Setelah melewati beberapa tanjakan dan beberapa tikungan (tenang saja, ada bapak-bapak yang mengurus lalu lintas untuk meminimalisir hal-hal buruk), akhirnya kami sampai di parkiran motor objek wisata KaliBiru, alhamdulillah :)

     Biaya parkirnya Rp 2.000,00 ditambah biaya ojek Rp 15.000,00 ditambah biaya masuk ke KaliBiru Rp 10.000,00 (untuk weekend dan Rp 5.000,00 untuk hari biasa), serta Rp 15.000,00 untuk menikmati Photo Shot di tempat yang telah disediakan.

        Rasanya di KaliBiru ? Enaaakk !!!
Udaranya semilir sejuk ...
Pemandangannya bagus sekali, dapat memandang Waduk Sermo dari kejauhan ...
Orang-orang petugasnya ramah ...
Photo shot-nya menarik untuk dicoba ...
Pokoknya menarik :D

      Sedikit tambahan, ada beberapa penginapan yang disewakan, berupa gubuk kecil dengan kapasitas yang mampu menampung 20 orang dengan biaya per penginapan Rp 300.000,00 (kata ibu petugasnya). Mungkin ada yang berminat untuk mencoba Photo Shot di dini hari ? Silahkan dicoba :)

Beberapa dokumentasi kami ...


Foto dulu di depan tulisan KaliBiru


Sedang menunggu giliran foto


Harga tiket Photo Shot untuk 4 menit


Foto kaki sama adek :D


Bagus yah :D


Ceilah si adek :D





Bingung Mencari Watu Lumbung ...

      Minggu, 17 Januari 2016 aku dan sahabatku sepakat untuk melakukan wisata alam ke Watu Lumbung, sebetulnya kami sudah berencana untuk kesana hari minggu, 10 Januari 2016 lalu ... Tetapi apalah daya, cuaca Jogja yang sedari sore sudah terguyur oleh hujan terus-menerus membuat kami mengurungkan untuk pergi ke Watu Lumbung. Dan tepat kemarin, akhirnya hal tersebut dapat terlaksana ... Jalan-jalan yah :D

    Untuk menuju ke Watu Lumbung, kita melalui Jalan Parangtritis dan lurus terus hingga menemukan jembatan penghubung yang sangat besar dimana dibawahnya mengalir sungai yang sangat besar yang mana sepertinya sungai tersebut langsung bermuara ke laut selatan, ehehehe. Setelah menemukan jembatan besar tersebut maka langsung belok ke kiri, karena pas setelah jembatan tersebut ada belokan pertigaan. Kita berdua sempat tersasar dan bertanya ke sana kemari, dan syukurlah penduduknya ramah dan mau memberitahukan arah jalan dengan sabar karena kami bertanya-tanya terus sehingga terlihat seperti orang kebingungan. Ternyata kami tersesat lumayan jauh.

      Arah ke Watu Lumbung ternyata tidak jauh dari belokan pertigaan jembatan besar tadi, dimana dari arah jembatan maka akan menemui pertigaan pertama. Pertigaan pertama itu lalu belok ke kanan, dan itulah arah yang tepat untuk menuju bukit Watu Lumbung. Pertigaan jembatan besar belok kiri, pertigaan pertama belok kanan (ada papan penanda Kedai Wedangan yang lumayan buram), dan kita harus menaiki jalan yang lumayan menanjak. Terus menanjak, maka di sebelah kiri dan kanan jalan kita akan menemui kedai-kedai kecil dengan pemandangan dari ketinggian yang sangat asri dan sejuk, sungguh menyegarkan.


Menyegarkan sekali dapat melihat pemandangan ini


Duduk sejenak melepas penat

      Setelah kami berjalan-jalan, berkeliling, dan berfoto-foto tentunya kami ingin beristirahat. Ada Kedai Wedangan di daerah Bukit Watu Lumbung, menjual makanan berat dan minuman yang enak tentunya. Saya membeli kopi Robusta Lampung seharga Rp 15.000,00 dan sahabatku membeli es susu cokelat seharga Rp 7.000,00. Harganya sesuai dengan sensasi yang akan kita rasakan ketika meneguk minuman yang menyegarkan di ketinggian.


Minum sambil menikmati pemandangan


Kopi Robusta Lampung Kedai Wedangan, Pekat dan Pahit sangat :v



Menarik sekali bukan ?


Kedai Wedangan juga menggunakan ayunan sebagai tempat duduk

      Akhirnya kami sangat puas sekali, foto-foto kesana kemari dan mengabadikan tempat yang sangat menarik ini. Senja pun tiba dan bayang-bayang indahnya dengan segera menyelimuti langit dengan warna-warna yang menentramkan hati, sungguh kekuasaan Tuhan Yang Maha Besar. Suatu hari nanti ingin sekali lagi menghabiskan waktu disini, menikmati secangkir kopi sambil menghayati kebesaran Tuhan :)


Senja di Bukit Watu Lumbung


Kedai Wedangan


Penataan tempat yang menarik